Tampilkan postingan dengan label Dalam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dalam. Tampilkan semua postingan

24 Agustus 2009

Ironisme Kebangsaan Dalam Sebuah Kontes Musik Indi

Kemarin malam saya menonton acara kontes musik Indi di televisi. Seperti biasa, setelah setiap peserta band mengadu bakat mereka, para juri memberikan penilaiannya masing-masing.
Awalnya sih, acara berlangsung biasa-biasa saja bagi saya. Tapi tiba-tiba saya kaget dengan komentar salah satu juri. Sehabis salah satu peserta band unjuk kebolehannya, si juri berkomentar “Kalian ini masih masih Indonesia banget”.

Loh, ada apa dengan menjadi Indonesia? Setahu saya, aliran musik Indi itu mengadopsi dari kata Independent. Mereka yang tersebut dalam Indi, musiknya tidak berada dalam jenis musik mainstream pasar. Mereka adalah orang-orang out of mainstream, alias kreatif. Begitu juga dari segi pembuatan, pendistribusian, promosi, dan penjualan. Bahkan juga tidak bergantung dan menggantungkan dirinya pada industri musik yang orientasinya bergantung pada pasar. Tidak pernah saya temukan, bahwa musik Indi itu harus berkiblat pada musik dari negara manapun.

Lain halnya kalau si Juri berkata begitu di rumahnya atau di pos hansip. Paling-paling yang mendengar dia hanya segelintir orang saja. Dia tidak sadar bahwa apa yang diucapkannya didengarkan oleh seluruh orang yang menonton acara tersebut di televisi. Jangkauannya tidak 1 atau 10 kilometer saja, tapi sangat lebar. Terpikir nggak ya sama dia, tidak menutup kemungkinan kalau yang mendengar anak usia belasan tahun yang masih mencari jati diri. Bisa-bisa, anak-anak itu berpikir : “wah, kalau begitu menjadi Indonesia, berarti tidak keren” Ironis…. Disaat bangsa Indonesia membutuhkan tunas-tunas muda yang siap berjibaku untuk kemajuan bangsa, malah disuguhi sebuah pencitraan bahwa menjadi bagus atau keren adalah dengan menjadi bukan Indonesia banget.


Ini sama dengan keprihatinan saya pada pandangan miring sebagian orang terhadap musik Melayu. Akar bangsa Indonesia adalah bangsa Melayu. Tapi banyak musisi Indonesia yang kalap ketika grup pengusung aliran Melayu mulai unjuk gigi. Para musisi itu beranggapan bahwa musik Melayu meracuni musik Indonesia. Sebuah pernyataan yang mengerikan karena keluar dari mulut orang yang berkulit sama kuning, berambut sama hitam, bernapas dengan udara yang sama, berpijak pun di tanah melayu, di Indonesia.


Saya juga penikmat musik dari karya musisi luar Indonesia. Sama dengan olahraga, musik bisa digunakan sebagai alat jitu pemersatu ratusan suku bangsa di dunia. Di mata saya, tidak ada suatu karya musik sebuah bangsa yang lebih unggul derajatnya dibandingkan dengan karya musik bangsa lain. Yang membuat berbeda adalah bagaimana penghargaan orang terhadap musik sebuah bangsa, berdasarkan bangsa itu menilai musik dari musisi bangsa itu. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai karya bangsanya sendiri. Jadi, bagaimana mengharapkan bangsa lain menghargai kita apabila kita sendiri tidak mau menghargai karya bangsa sendiri?.


Saya tidak menutup mata terhadap banyak kekacauan yang sedang terjadi di negri kita. Tapi saya tidak malu untuk mengatakan bahwa saya adalah orang Indonesia asli 100%. Darah saya adalah darah Indonesia, bahwa di dalam darah saya mengalir darah Jawa dan Tionghoa, itu adalah kekayaan bangsa Indonesia. Dan saya yakin, disela-sela kekacauan politik, ekonomi dan segala tetek bengek kebejatan yang sedang bergumul dengan bumi Indonesia, Indonesia adalah sebuah negeri yang indah, penuh warna, bersejarah, dan besar. Jadi, dengan lantang saya ucapkan: YA. SAYA ADALAH ORANG INDONESIA BANGET.


dicomot dari : http://sitinurdina.wordpress.com/

04 Agustus 2009

Nasionalisme Dalam Hati

Seorang facebooker berinisiatif mengajak kawan-kawan sesama facebooker Indonesia untuk memerah-putihkan facebook selama 20 hari penuh di bulan Agustus. Nantinya dengan seluruh facebooker Indonesia mengganti profile picture-nya dengan Sang Dwiwarna akan bisa memecahkan rekor memerah-putihkan facebook. Kalau soal mengganti foto okelah saya setuju, tapi kalau memecahkan rekor, terus terang dari awal saya pesimis bahwa seluruh facebooker Indonesia mau mengganti profile picture-nya dengan bendera merah-putih atau hal yang berbau kebangsaan.

Namun, meski pesimis hal itu dapat memecahkan rekor, karena saya bangga jadi orang Indonesia, maka saya ajak hampir seluruh teman-teman facebook saya untuk memerah-putihkan facebook. Dan yang bersedia mengganti profile picture-nya (saya kirimkan juga contoh-contoh gambar aneka bendera merah-putih) tak sampai 50 orang dari hampir ratusan facebooker yang saya ajak, hahaha!

Alasan mereka hampir seragam. Pertama, tak tahu cara mengganti foto profil (profile picture) menggunakan ponsel karena mereka ber-facebook ria tiap hari menggunakan ponsel. Kedua, merasa nasionalisme tak perlu ditunjukkan dalam foto tapi cukup dalam hati. Bahkan seorang teman saya bilang apakah nasionalisme itu wajib? Bukankah nasionalisme itu yang penting ada dalam hati saja? Waah, seperti lagu milik kelompok vokal Warna, Dalam Hati Saja, hehehe!

Padahal tidak selamanya foto merah-putih itu dipasang dalam facebook mereka. Hanya 20 hari selama bulan Agustus, menyambut kemerdekaan RI. Kemudian setelah itu mereka bisa mengganti dengan foto apapun yang mereka mau.

Saya jadi berpikir dengan pernyataan teman saya itu. Mungkin negara ini selalu kalah dengan bangsa lain karena rakyatnya tak punya rasa nasionalisme apalagi patriotisme. Rakyat yang tak punya nasionalisme dan patriotisme akan malu pakai baju dan sepatu buatan negeri sendiri. Hal ini mungkin yang membuat posisi tawar Indonesia dalam perdagangan dengan Singapura dan Malaysia lemah sekali.

Juga para pejabat yang tak punya nasionalisme dan patriotisme jadi salah kaprah menerapkan sekolah internasional, membuat pendidikan di Indonesia kacau-balau dengan kurikulum dan kebijakan yang gonta-ganti.

Itu semua karena orang sudah malu jadi orang Indonesia. Orang sudah tak paham lagi mengapa pentingnya nasionalisme di tunjukkan tak hanya disimpan dalam hati saja.

Kalau nasionalisme tidak disimpan dalam hati, bangsa lain akan segan terhadap kita. Contohlah seperti bangsa Jepang, misalnya. Mereka bangga menjadi bangsa Jepang dengan tetap menggunakan bahasa ibu mereka ketika berhadapan dengan orang asing, dan menggunakan maskapai penerbangan negeri mereka sendiri ketika bepergian keluar negeri. Bahkan meski industri Jepang menerapkan politik dumping, warganya tetap berbondong-bondong membeli produk hasil negeri mereka sendiri.

Lalu ada pula Amerika Serikat, meski negeri itu sering jadi biang kerok hancurnya perdamaian dunia, warganya tidak menyembunyikan nasionalisme dalam hati saja. Mereka punya "Uncle Sam" sebagai lambang patriotisme. Mereka juga dengan bangga menyatakan "right or wrong is my country."

Lihat juga Venezuela, Presiden Hugo Chazes tidak pernah menyuruh rakyatnya menyimpan semangat nasionalisme dan patriotisme dalam hati saja. Dengan begitu, meski negara itu menantang negara adikuasa namun ia tetap dihormati dan pemimpinnya disegani.

Jadi, nasionalisme tidak bisa disimpan dalam hati saja karena itu merupakan salah satu bentuk pertahanan bangsa. Kalau sebuah bangsa nasionalismenya hanya dalam hati saja itu berarti mempercepat kepunahan bangsan itu sendiri.

Tapi, menurut saya, ada hal mendasar yang membuat orang enggan mengganti foto dirinya dengan foto Sang Dwiwarna. Orang kuatir eksistensi diri dan ketenarannya di facebook berkurang jika ia memasang foto yang tidak memajang wajahnya, hehehehe..

Dengan demikian saya berani menyatakan bahwa saya tak bangga jadi rakyatmu, saya hanya bangga jadi orang Indonesia, MERDEKA!!!

------------------------------------------------------------------------------
nasionalisme : satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggris “nation”) dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia.

patriotisme : sikap yang berani, pantang menyerah dan rela berkorban demi bangsa dan negara.
------------------------------------------------------------------------------

Dicomot dari: rayakawula.wordpress.com

17 Januari 2009

Religiosity in Diversity - Beragama Dalam Keragaman

...gara nge-searching tentang "taman bermain" malah nemuin ini di google.

Catatan pengiring tiga film pendek "Religiosity in Diversity - Beragama Dalam Keragaman".

Sebuah E-Book yg menghadirkan tentang keragaman dalam keberagamaan masyarakat Indonesia sehari-hari, dan bagaimana keragaman itu disikapi.

Dihadirkan oleh CRCS (Center of Religious & Cross-cultural Studies) Sekolah Pasca Sarjana Universitas Gajah Mada Jogjakarta dan didukung oleh Ford Foundation.

E-Book ini mencoba mengambil potret-potret close-up keragaman dalam praktek kehidupan keagamaan masyarakat, dan bagaimana perbedaan itu dihidupi dalam masyarakat.

Ada tiga film yang dijabarkan di sini. Satu mengenai proyek “pompanisasi” sederhana di sebuah desa di Jawa Tengah yang pernah mengalami trauma historis akibat perselisihan ideologis. Satu lagi tentang pasangan “normal” yang sekadar ingin menempuh hidup baru, berjanji setia seumur hidup, tapi dihadang oleh urusan administratif negara yang merepotkan. Dan yang terakhir adalah tentang pendidikan agama kanak-kanak yang dilematis. Apa yang menyatukan ketiganya? Dan anda tertarik untuk membacanya???

Download: disini...